よこそ!!!!

स्वागत, ДОБРО ПОЖАЛОВАТЬ, مرحبا بكم, 欢迎, 환영, ยินดีต้อนรับ, WELCOME

Senin, 10 Oktober 2011

Gundah??? Galau???

aduh, saya sendiri nggak ngerti letak perbedaan gundah sama galau. jadi jangan nanya apa apa ya.

saya cuma dalam keadaan yang tidak baik. akhir akhir ini saya jadi kesulitan belajar. bener bener nggak kayak dulu, oke ini udah saya sebutin di postingan sebelumnya. ditambah lagi sob sekarang masalah baru muncul. antara naksir dan enggak. jiaaaaaah, yang dibahas nggak jauh jauh dari cinta cintaan. padahal saya orang yang jauh banget sama yang namanya cinta cintaan. meskipun saya naksir sama lawan jenis, saya nggak nganggep orang yang saya takksir itu sebagai orang yang berarti, bahkan saya nggak mengharap lebih lebih sama dia. jadi intinya sob, kalo saya naksir seseorang itu adalah sebuah fase dimana saya pingin seneng seneng doang, bukan buat berkomitmen serius. kalopun ada yang saya taksir, saya cuma menikmati masa masa seru bersama dia. nggak lebih. kalopun dia pacaran sama orang lain juga saya nggak heboh, nggak ada masalah. aneh? tau ah. silahkan bilang aneh kalo nganggep saya aneh.

jadi yang jadi masalah adalah.... jeng jeng jeng jeng....
saya naksir salah satu senior saya. bukan, bukan naksir seperti biasa, bukan naksir maen maen dan sekedar seneng seneng. saya cemburu pas tadi dia jalan sama cewek. saya nggak tau itu ceweknya apa bukan. saya mulai bisa cemburu sob, ada apa dengan saya???? apa saya bener bener jatuh cinta? tidak!!!!! saya nggak pengen jatuh cinta, sumpah. rasanya pengen nangis, soalnya hidup saya berasa jadi nggak tenang lagi soalnya tiap kali saya diem ato sendirian pasti kebayang bayang si senior saya itu. bajingan nggak sih? biasanya kebayang bayang kanji kenapa sekarang berubah jadi bayangan cowok?

adakah yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan saya?

Sabtu, 01 Oktober 2011

PEMBAHASAN (Sosiologi Jepang)

2.1 Koreika Shakai dan Shoshika di Jepang

Di Jepang terdapat koreika shakai yang berarti mayarakat Jepang didominasi oleh kaum lanjut usia. Banyak orang Jepang masih hidup sampai usia lanjut. Harapan hidup di Jepang baik untuk pria dan wanita merupakan yang tertinggi di dunia dengan pria = 77,9 tahun dan wanita = 85,1 tahun. Harapan hidup yang tinggi ini disusul oleh negara Swedia, Spanyol, Australia, Kanada, Swiss, Prancis, Norwegia, Belgia, Italia, Austria, dan Yunani. Beberapa orang lanjut usia di Jepang masih aktif melakukan aktivitas sehari-hari. Dan mereka sangat menikmati masa-masa kehidupan tua mereka dengan mengisi kegiatan pada kelompok hobi/klub hobi seperti kaligrafi, menari jazz, kerajinan kulit dan tembikar dan karaoke. Dengan cara seperti ini banyak orang lanjut usia Jepang menemukan cara baru untuk menikmati hidup, tetap bersosialisasai dengan lainnya dan yang terpenting adalah tetap menjadi anggota masyarakat yang aktif.

Sementara itu bila dilihat dari jumlah kelahiran jepang juga menghadapi penurunan jumlah kelahiran atau yang disebut dengan shoushika. Hal tersebut disebabkan karena banyak kaum muda di jepang yang enggan melakukan ikatan pernikahan, kalaupun mereka mau menikah banyak dari mereka yang tidak ingin memiliki anak atau sering disebut dengan double income no kids (DINKS) , sehingga pertumbuhan penduduk di jepang sering digambarkan seperti pyramid terbalik, dimana kaum lanjut usia semakin lama semakin banyak dan kaum muda semakin lama semakin sedikit. Di Jepang, misalnya, penduduk yang berusia 65 tahun ke atas mengalami penurunan pendapatan namun konsumsi meningkat. Sedangkan penduduk yang berusia antara 30-65 tahun mengalami situasi dimana pendapatan lebih besar daripada konsumsi, dan yang berusia di bawah 30 tahun konsumsinya lebih besar atau sama dengan pendapatannya. Saat ini Jepang tengah memasuki fase penurunan jumlah penduduk sebagai akibat proses aging yang berlangsung sangat cepat.

Hal ini akan memperlambat potensi pertumbuhan terutama karena berkurangnya jumlah tenaga kerja dan turunnya tingkat suku bunga tabungan domestik. Dampak lebih jauh dari hal ini adalah Jepang akan menjadi negara maju pertama yang mengalami declining population. Tenaga Kerja Asing Data dari Biro Statistik Jepang mengungkapkan piramida kependudukan Jepang telah berubah secara dramatis akibat turunnya angka kelahiran dan kematian. Untuk tahun 2006 saja jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas sudah mencatat rekor tertinggi baik dalam jumlah maupun persentase. Yang lebih menakutkan lagi adalah proyeksi kependudukan Jepang pada tahun 2050.

Pada saat itu di perkirakan piramida kependudukan Jepang akan menjadi sebuah ‘piramida terbalik’ karena komposisi penduduk usia lanjut (di atas 65 tahun) yang diperkirakan mencapai 39,6 %, sedangkan penduduk usia produktif hanya mencapai 51,8 %. Di tahun yang sama, anak-anak Jepang diperkirakan hanya 8,6 % dari total populasi Jepang. Sungguh mengkhawatirkan. Situasi ini menghadapkan Pemerintah Jepang pada tantangan serius terhadap kebijakan ekonominya di masa mendatang.

2.2 Penyebab Adanya Shoshika

1. Tingkat natalitas yang sangat rendah

Kebanyakan orang Jepang tidak ingin menikah dan tidak ingin mempunyai anak. Kalaupun mereka menikah dan ingin mempunyai anak, mereka hanya memutuskan untuk memiliki seorang anak saja. Karena jika memiliki lebih dari satu anak akan memberatkan mereka. Ini dikarenakan biaya perawatan, biaya sekolah,biaya hidup, dan lainnya untuk anak sangatlah mahal.


2. Tidak ingin meninggalkan karier dan gaya hidup.


Para pemuda di Jepang cenderung mengulur waktu untuk menikah dan mempunyai anak sebab mereka lebih mementingkan karir dan gaya hidup mereka. Saat menikah dan mempunyai anak mereka tentu akan sedikit kesulitan dalam mempertahankan karir mereka yang sudah dicapai dengan susah payah. Selain itu gaya hidup pada masa muda juga pasti akan berubah seiring dengan adanya anak sehingga mereka merasa harus menjadi orang tua sepenuhnya.

3. Keengganan melakukan aktivitas seksual

Menurunnya angka kelahiran di Jepang salah satu faktor utamanya adalah turunnya aktivitas seksual warganya. Hal ini berdasarkan hasil poling yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, Pekerjaan, dan Kesejahteraan pada Kamis, 13 Januari 2011, seperti dilansir dari laman The Telegraph. Poling yang bertujuan untuk mengukur aktivitas seksual warga ini melibatkan 671 pria dan 869 perempuan serta dilakukan pada September 2010. Pada hasil poling, 36 persen pria usia 16-19 tahun menyatakan tidak tertarik dan tidak memikirkan soal seks. Angka ini meningkat dari poling serupa 2008 dengan 17,5 persen. Angka mengejutkan ditunjukkan oleh hasil poling terhadap perempuan. Sebanyak 59 persen perempuan Jepang menyatakan tidak tertarik dan tidak memikirkan soal seks. Angka ini meningkat 12 persen dari poling 2008.

4. Pesimisme tentang masa depan

Mereka mengkhawatirkan anak anak tumbuh sebagai benih yang buruk serta takut membesarkan mereka sebab mereka sendiri merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan rutin serta merasa bahwa gaji mereka terlalu kecil sehingga tidak dapat diandalkan dalam berkeluarga.

5. Zaman nuklir yang berbahaya

Era nuklir tidak hanya berdampak pada terjadinya kelainan genetika. Lebih dari itu, era nuklir diduga sebagai biang keladi penurunan jumlah kelahiran bayi perempuan di seluruh dunia. Demikian hasil studi terbaru yang dipublikasikan peneliti dari Helmholtz Zentrum, München, Jerman. Kondisi itu disebabkan arus udara menangkap atom-atom yang terlontar dari hasil ledakan. Tangkapan atom-atom oleh udara selanjutnya menyebar ke seluruh dunia. Berangkat dari fakta itu, Hagen memprediksikan efek dari reaktor nuklir Daiichi, Jepang akan menurunkan jumlah kelahiran bayi perempuan di pantai barat AS. Hasil pengujian menunjukkan radiasi menyebabkan kerusakan pada kromosom X dalam sperma.

6. Tidak memihak pada perempuan

Selain nilai sosial Jepang yang sangat menghargai usia seseorang, hambatan utama fertilitas perempuan di negeri itu juga terletak di sistem kerja yang terkadang sangat tidak memihak kepada perempuan. Praktik yang terjadi di Jepang saat ini dalam hal perlakuan dunia kerja kepada perempuan yang menikah lalu hamil dan melahirkan, membuat kaum perempuan di sana tidak terlalu bersemangat untuk menjadi ibu rumah tangga. Karena bila sudah menikah, kemudian punya anak, jabatan atau pekerjaan perempuan itu bisa saja langsung diganti oleh orang lain tak lama setelah sang wanita mengajukan izin cuti hamil atau melahirkan.

2.3 Penyebab Terjadinya Koreika Shakai

1. Tingkat mortalitas rendah

Adanya tingkat mortalitas atau tingkat kematian yang rendah menandakan bahwa generasi lanjut usia tetap hidup panjang umur. Mereka yang lanjut usia kebanyakan masih sehat dan bisa hidup sementara kaum lanjut usia terus menumpuk.

2. Gaya hidup sehat

Di Jepang makanan menjadi faktor penting untuk meningkatkan harapan hidup. Makanan gaya Jepang baik untuk kesehatan dan mengandung banyak nutrisi untuk i, memperlambat penuaan sel, rendah kalori, dan mengandung zat-zat gizi penting. Karena apa yang mereka makan setiap hari sangat baik untuk kesehatan, dan mereka masih membiasakan untuk berolah raga, itulah yang menyebabkan mereka terlihat awet muda dan berumur panjang. Sering dijumpai makanan Jepang yang disajikan mentah. Ini bukan dengan tidak beralasan. Selain lebih segar, nutrisi makanan mentah dipastikan lebih tinggi daripada makanan yang telah mengalami proses pemasakan. Kalau masih segar, makanan tidak memerlukan bumbu yang banyak atau dimasak dalam waktu yang lama, dan hampir semua vitamin dan nutrisi yang menjadikan tubuh tetap sehat tetap terkandung di dalam makanan tersebut.

3. Pola pikir yang dinamis

Merupakan kesalahan besar jika berfikir kalau masa tua adalah masa untuk bersantai, berbaring di tempat tidur dan menghabiskan waktu hanya dengan menonton tv di rumah. Dengan kata lain, jika beranjak tua maka saat itulah melakukan penarikan diri dari dunia yang aktif. Justru, di masa tua itulah setidaknya orang tetap aktif dalam berinteraksi dengan orang-orang, menjalani kehidupan yang membangkitkan semangat dan itu adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Faktor penting bagi masyarakat yang berusia lanjut adalah sikap optimis. Untuk tetap selalu sehat mereka berusaha untuk selalu bahagia. Misalnya dengan rajin merawat kulit, berolahraga, membersihklan pikiran dengan tidak menumpuk rasa stress. Dengan mempunyai pola pikir yang terbuka, sanggup menerima perubahan dari luar, tidak memupuk rasa stres, dapat menghindarkan mereka dari penyakit penyakit yang dapat merenggut nyawa mereka.

Rabu, 28 September 2011

Letih?

Serius, ini mencapekkan! (saya nggak tau adakah kata mencapekkan, maklum nilai bahasa inggris sama bahasa jepang saya waktu SMA lebih bagus daripada bahasa Indonesia)

Selalu ada tugas dimana mana, Nihon Bungaku Kanso, Nihongo Chukyu, Moji, belom lagi junbi ini itu buat materi kuliah, ditambah lagi internal audit department out going exchange. Oh plis, tolong otak saya overload. Saya sendiri ngerasa saya nggak ngikutin kuliah dengan maksimal kayak dulu. Oke, salahkan operasi dua bulan yang lalu. Kondisi saya nggak bener bener fit dan cepet kecapekan. Kerjaannya ngantuuuuuuk mulu. My God! Murder me!

Kalo boleh jujur, dulu belajar bentar udah masuk, langsung afal, gampang ngerti tapi sekarang konsentrasi saya kayak udah kepecah gitu. Jadi musti kerja ekstra buat belajar. Jadi ini saya musti gimanaaaaaaaa? *garuk garuk aspal lempar lempar clurit* Jadwal kuliah juga jelek banget nggak karuan, bikin KRS nya dibikinin temen sih, waktunya mepet banget makanya asal dapet kelas aja udah bersyukur.

Udah ah, nggak banyak ngomong, ntar kesamber gledek #gaknyambung. sekarang waktunya bercinta dengan Kanji yang bakalan shotesuto jumat besok. 32 Kanji musti dilahap, nggak pake digoreng, nggak pake di kukus (emang ubi?).

Senin, 19 September 2011

Mon Parcours - Lagu Sukaan Saya sih...

J’compte les années, j’compte les jours
En attendant de vous raconter mon parcours

Un, deux, trois, quatre


Déambulant dans le quartier

Avec un ballon de foot entre les pieds
C’est l’image que vous avez gardé de moi
Un mirage qui m’apparaît dans ce froid
J’rêvais de voir le monde et ses saisons
J’y croyais à tord ou à raison
Et oh je n’connaissais que le tour du pâté de maison
Mais en jetant mes pierres je visais l’horizon
J’arrive à peine à croire que ça fait 6ans
Que j’ai quitté mes amis et ma maison
Mes frères et sœurs ne pensaient pas que j’vous abandonne
J’irais exercer mes prières et que Dieu me pardonne


C’est ça la vie, des Bas et des Hauts

On tient le fil comme au rodéo ohoh ohoh

(Et depuis...)

J’compte les années, j’compte les jours
En attendant de vous raconter mon parcours
Et vous dire que j’ai changé et combien vous me manqué

Je me rappelle quand les voisins râlés

Dès qu’on chantait fort dans le pallier
On était tous dans le même panier
On croquait dans la vie avec nos dents de lait et malgré mes conneries
J’avais de bonnes notes car je voulais devenir astronaute
Mais j’ai compris qu’en étant une fille dans mon pays
C’était pas possible alors j’ai dit tan pis
Et j’ai continuai de chanter
Même si depuis j’ai changé
Jour après jour, année après année
J’ai pu shootais les étoiles en jouant ces notes

C’est ça la vie, des Bas et des Hauts

On tient le fil comme au rodéo ohoh ohoh

J’compte les années, j’compte les jours

En attendant de vous raconter mon parcours
Et vous dire que j’ai changé et combien vous me manqué




Sebenernya saya lagi usahain dance pake lagu ini, cuma ya saya kan belom bisa gerak sebebas dulu jadi koreografinya cuma diawang awang aja. Sumpah, mangkel banget sama keadaan fisik saya sekarang, rambut gundul, gak bisa dikibas kibasin pas ngedance kayak dulu. kepala sama mata juga masih cacat, jadi nggak enak. Ngedance nggak bisa, apalagi berantem diarena pertandingan karate? Dulu sih biasa aja kena pukul ato kebanting, lha sekarang, belom sembuh, syaraf saya bisa geser lagi... Selanjutnya palingan saya main kata aja, nggak kumite, soalnya dilarang dokter. Doain saya ya Sob, moga moga bisa cepet balik kayak dulu lagi...

Minggu, 18 September 2011

Kini

Hadeeeeeeeeeeh, sekarang udah seminggu kuliah dan saya mulai benci hari Sabtu dan Minggu. Ck, nggak ada kuliah, nggak kemana mana, beres beres dikosan aja, blogging, buka twitter sama facebook, buat hiburan baca baca blognya si pocong ato nguping jakarta.
#bosen abis

Hari hari cuma belajar, menyenangkan sih sob, bisa pegang buku chukyu sama kanji lagi soalnya dulu pas masih dirumah sakit ketemunya suntikan mulu sama infus. Kalo udah bosen belajar biasanya sih nulis, puisi kek, cerpen kek, sampe kritik sastra, apa ajalah sob yang penting nggak bengong. Sedih banget sekarang saya nggak bisa maen karate lagi. *sigh* Sebenernya nggak mau bahas cuma ya ini fakta yang menyakitkan.

Lagi. Saya lagi males sama seorang cowok. Bukan, bukan pacar saya. Sumpah bukan. Orang saya liat dia aja udah eneg. Sok care, kerjaannya cuma pengen nganterin saja pulang but plis deh bo'... saya tuh cuma cacat kepala sama mata bukannya sakit keras jadi saya nggak butuh PEMBANTU! Pengen banget teriak gitu di depan mukanya soalnya saya beberapa hari ini mendadak kejem, tega banget maki maki orang, padahal biasanya saya nggak gini.

Jujur, saya lagi ngelirik seseorang, tiap kali liat dia rasanya deg degan, dunia saya berhenti berputar #glondang. Pas beli makan tadi saya liat dia jalan sama cowok geje yang pernah nembak saya itu. Seneng ngeliat dia senyum sekaligus salting. Itu namanya suka apa bukan? Dulu dia pernah depresi gara gara cewek. Jadi dia stres berat gitu. Kata ayah, (ayah yang denger cerita itu dari dia sendiri) gara gara dia patah hati berat kayak gitu akhirnya dia nggak berniat pacaran lagi Sob, dia udah janji sama orang tuanya kalo dia bakalan nerima cewek yang dipilih sama orang tuanya. Hiks. Nelangsa banget.

Dia mau dijodoh jodohin sedangkan saya ya, dijodohin aja rasanya stress. Pengen minggat dari rumah aja. Terus terang aja, ayah saya pernah nanya ke saya 'kalo dia aja bisa nerima perjodohan yang ditentuin sama orang tuanya, kamu bisa nggak jadi kayak dia. jadi sosok yang nerimo gitu?' dan jawaban saya adalah ENGGAK! Saya bikan anak perempuan yang bisa nerima sembarang keputusan orang tua Sob. Saya bertanya tanya aja kenapa dia (sebut aja Z) mau gitu dijodohin? Kadang kan yang baik buat orang tua belum tentu baik juga buat kita.

Tapi mungkin saya terlanjur suka kali ya sama dia. Dan saya rela kok kalo suatu saat nanti saya ngeliat dia bersanding sama perempuan laen. Itu kan udah jadi keputusannya. Dia juga bilang ke ayah 'Orang tua kan pasti milihin yang terbaik buat anaknya Pak' gitu sob. Ngenes nggak sih? Terus terang lagi, saya suka sama dia, oke ini beranjak mirip sama confession (emang). Saya suka sikapnya yang kelihatan dewasa, cerdasnya dia (nggak kayak cowok yang nembak saya itu, bego), aktifnya dia di kampus, emang sih dia di kampus swasta tapi keliatan kok dia aktif gitu. Saya suka alimnya dia, nggak pernah telat shalat kata ayah. Dan kenapa dia mau dijodohin suatu saat nanti? terlalu beratkah penderitaannya pas di khianatin ceweknya yang dulu? Sampe sampe dia nggak mau milih calon pendampingnya sendiri.

Saya emang nggak pernah patah hati sampe depresi, iya, soalnya kadang kadang nggak inget buat jatuh cinta, nggak ada waktu. Tapi rasanya saya bisa ngerti perasaan dia. Itu kan sakit. Saya mau kok jadi temen curhatnya, saya bisa dengerin dia sambil tetep ngesupport dia. Bukannya saya mau ngambil kesempatan, tapi saya emang empati sama dia. Kasian Sob, kebanyakan cowok kalo punya beban kan di pendem sendiri soalnya dia ngerasa kuat. Sedikit ngarep ya, semoga aja dia baca blog ini dan baca tulisan ini biar dia bener bener tahu kalo dia nggak sendirian.

Rabu, 14 September 2011

Naskah Drama atau Bukan?

Dia : Itu kan salahmu!
Saya : Lha, aku? Buset dah, salahku apa sih?
Dia : Kamu polos apa emang sengaja sih?
Saya : Apa siiiiiiiiiiiiiih? *siap siap nonjok*
Dia : Rizu dengerin, kamu udah ngasih harapan ke orang, nggak sadar?
Saya : Aku cuma berusaha bersikap baik sama orang kok, salah? *melotot*
Dia : Liat liat dulu siapa yang kamu baikin, orang reseh kayak dia ngiranya kamu mau sama dia, mau jalan bareng dia aja udah dia anggep mau jadi pacarnya...! Hih, gitu aja nggak ngerti? Kebanyakan nihongo chukyu kamu! *noyor*
Saya : Jangan bawa bawa nihongo chukyu! Toh intinya aku nggak mau sama dia kan.
Dia : Bukannya gitu Rizu jelek! Dia udah banyak usaha deketin kamu, lancang pegang kamu, kamu sendiri juga eneg kan di colek cowok!??
Saya : Iyalah, risih tau! Siapa sih yang mau dicolek? Sekali nyolek, sini aku hajar!
Dia : Kamu masih belom sembuh total, jelek!
Saya : Biar belom sembuh, nge-maegeri orang sampe tumbang aja aku masih bisa.
Dia : Ck, masih sakit, kasarnya keluar...
Saya : Ya abis, aku nggak suka dideket deketin dia. Bawaannya pengen ngehajar mulu.
Dia : Makanya jadi orang liat situasi! Jangan asal baek, baeknya kamu, ramahnya kamu tuh berlebihan, jadi dia ngarep sama kamu. Kamu, nggak doyan sama dia kan.
Saya : Siapa juga yang doyan sama dia. Kayak gak ada yang lebih bermutu aja. Kamu apaan sih bahas ginian? Aku mending ngerjain tugas nulis kanji dah!
Dia : Aku nggak suka dia ngomong mencla mencle tentang kamuuuuu... kamu nggak tau sih.
Saya : Iya iya, tapi kenapa aku dihakimi gini?
Dia : Masih inget kan, dia bilang ke anak anak kalo dia nembak kamu gara gara pengen nyemangatin kamu doang? Aku tuh ngerasa kamu dipecundangi tau nggak?
Saya : Aku nggak ngerasa disemangatin sama dia, aku lebih milih temen temen yang bilang 'kitut, kita semua nunggu kamu kuliah lagi' atau 'tut, kamu pasti bisa sembuh'... Lagian kamu ngapain sih bahas beginian? Urusanmu apa? *kacak pinggang*
Dia : Aku tersinggung aja Zu... Kamu nggak ngerti sih gimana rasanya denger kalo kamu digituin, dia ngambil kesempatan pas kamu lagi sakit...
Saya : *bingung mau ngomong apa lagi*
Dia : *kayaknya makin emosional* Aku pengen sama kamu! Ngerti? Aku pengen aku yang ada disamping kamu. Puas kamu?!!!!
Saya : *bingung*
Dia : Ngerti nggak sih kamu, Rizu? Aku pengen kamu tau perasaanku, ya kayak gini. J'taime beaucoup.
Saya : *kaget sekaligus seneng* jitsu ha atashi, anatano koto ga... suki.

Dia tersenyum dan kelingking kami saling bertautan

Senin, 12 September 2011

Pacar? Penting?

Tumben, ngomongin beginian. Ihiiiirrrr... (apaan sih?)

Iya, jadi saya cuma pengen bahas bahas aja, berhubung saya nggak bisa ngerumpi di kamar orang lagi kayak dulu 'untuk sementara' selama masa penyembuhan. Lagian saya ngebahas pacar pacaran juga hal yang mudah dibaca anak anak seumuran saya, daripada saya ngomongin Sharebon, Genji Monogatari, Ninjobon, Kappa, Ryunosuke Akutagawa, Murasaki Shikibu,,, sudah sudah, itu kerjaan saya di kampus.

Selama ini yang saya denger orang orang pada nelangsa pas nggak punya pacar atau nangis nangis bawang pas putus. Nggak pernah tuh ada yang bilang seneng jadi jomblo, kayak poconggg yang ngenes. Temen saya aja yang ditinggal pacarnya ngilang untuk sementara nelfon saya dan bilang kalo dia mau mati aja. Halah bo' seberharga apa sih tuh pacar sampe dia mau bunuh diri gitu? Kenapa bisa kayak gitu? Kenapa orang yang punya embel embel pacar sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup kita yang indah ini? Kenapa coba?

Satu hal yang sangat saya tahu adalah jarang ada orang yang berubah jadi lebih baik setelah punya pacar, yang saya temuin di kehidupan sehari hari itu orang jadi makin GAKAKA alias gak karu karuan akibat pengaruh pacar. Ini kesalahan milih pacar atau Cupid yang kurang ajar memanahkan cinta pada orang yang salah apa malah dua duanya?

Jujur ya, saya terinspirasi ngomong gini gara gara seseorang, iyah yang saya sebut sebut di postingan sebelumnya. Mungkin dia untung untungan nembak gara gara saya pernah bilang kalo ada temen yang bilang 'hobi kamu matahin tangan orang sih makanya gak ada yang berani nembak'. Kali aja dia pikir saya jomblowati yang meratapi nasib. But, oh plis, saya nggak sedih jadi jomblo. Saya bukan cewek yang desperate dan bakal nerima siapa saja yang nembak saya soalnya selama ini nggak ada yang berani nembak saya yang mukanya kriminal. Maaf ya, saya terlalu mahal untuk jadi cewek macem itu.

Sobat sobat yang baik dan berakal sehat, apapun bentuk pacar, yang kalian lakukan adalah lakukan apa yang sudah kalian pikirkan dengan akal sehat, lakukan sesuatu yang tidak merugikan diri sendiri. Soalnya banyak banget orang yang rela menyerahkan segalanya saat diminta pacar. Apa apaan sih?

Nggak usah susah susah nyari pacar. Kalo Tuhan mengijinkan ada orang bakal masuk ke hidup kita, orang itu pasti dateng. Yakin deh. Toh tanpa pacar dunia belum berakhir kok *eaaaa nyanyi* Kuatir nggak ada temen buat hang out? Makanya cari temen yang banyak biar banyak barengannya. Nggak ada tempat curhat? Ya elah, banyak temen yang mau dengerin curhatan kamu kok. Nggak ada tempat berbagi? Halah halah, kuncinya cuma satu, bertemanlah dengan baik dan semuanya baik baik aja.

Terus terang aja saya jomblo dan saya masih baik baik aja selama ini, nggak kerepotan cari atau ngurusin pacar, Nihongo Chuukyuu lebih indah rasanya daripada nyari gebetan Sob, bener deh. Kanji lebih menarik daripada dimanja manjain pacar. Saya hepi dan saya masih sangat bangga jadi jomblo, saya bisa ngapa ngapain sendiri kok, saya bisa kemana mana sendiri. Buktiin dong kalo kamu bukan orang yang lemah yang ngerengek rengek supaya bisa punya pacar. Jomblo itu indah kok Sob, nggak bakal ada yang ubek ubek privasi kamu dan gangguin waktu kamu dengan sms gak penting kayak: udah maem? atau udah mandi? Halah!

Pacar? Penting ya hari gini hidup muter muter masalah pacar doang? Rayuan gombal pacar nggak bikin kamu kenyang Sob atau bikin kamu tambah pinter... Masih banyak hal yang bisa kita bangun, kita harus punya kepedulian sosial, punya kemauan belajar, punya bakat, punya keinginan untuk meringankan beban orang lain, bukan cuma punya cinta buat pacar Sob........ Pikirin itu.